Sriwijayapost.com, 20 Januari 2026 – Meskipun penjualan mobil nasional sepanjang 2025 mengalami penurunan, prospek emiten otomotif terpacu insentif pada 2026 dinilai masih cerah.
Oleh karena itu, analis pasar memprediksi saham sektor ini berpeluang menguat seiring wacana kelanjutan insentif pemerintah. Selain itu, pemulihan daya beli dan potensi pelonggaran suku bunga menjadi faktor pendukung utama.

Baca Juga
Pratama Arhan Comeback Gemilang, Bantu Bangkok United Menang 1-0 atas BG Pathum United
Insentif 2026 Jadi Kunci Penggerak
Selanjutnya, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto masih mengkaji bentuk insentif otomotif 2026. Karena itu, setelah insentif PPnBM DTP dan PPN untuk mobil listrik berakhir akhir 2025, fokus bergeser ke kendaraan hybrid, ICE terjangkau, serta syarat TKDN tinggi.
Misalnya, usulan pembebasan pajak untuk mobil di bawah Rp275-375 juta diharapkan mendorong produksi lokal dan penjualan. Akibatnya, prospek emiten otomotif terpacu insentif ini bisa menahan deindustrialisasi dan menjaga lapangan kerja.
Baca Juga
Perkuat Sinergi dan Semangat Inovasi, Polda Sumsel Laksanakan Upacara Hari Kesadaran Nasional 2026!
Rekomendasi Saham Unggulan
Akhirnya, emiten seperti PT Astra International Tbk (ASII) tetap jadi favorit berkat diversifikasi bisnis dan market share besar. Selain itu, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) diprediksi menguat karena eksposur ke aftermarket serta efisiensi biaya. Analis dari Samuel Sekuritas dan Kontan menargetkan harga ASII Rp7.000-8.000, sementara DRMA dan AUTO punya potensi naik signifikan. Oleh karena itu, investor disarankan pantau perkembangan kebijakan insentif.
Prospek emiten otomotif terpacu insentif 2026 jadi peluang bagi pelaku pasar. Dengan dukungan pemerintah, sektor ini diharapkan rebound. Bagaimana pandangan Anda soal saham otomotif tahun ini?
Baca Juga: Puing Pesawat di Bulusaraung: Tim SAR Belum Bisa Pastikan – Update Terbaru 17 Januari 2026











