KSAL Targetkan Kapal Induk Pertama Indonesia untuk Kekuatan Blue Water Navy
SRIWIJAYAPOST.COM – Wacana besar baru saja bergulir di dunia militer tanah air. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) secara ambisius mulai menargetkan pengadaan kapal induk pertama Indonesia dalam rencana jangka panjang.
Langkah ini bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan strategi nyata untuk memperkuat kedaulatan di wilayah perairan yang sangat luas.
Mengapa Indonesia Membutuhkan Kapal Induk?
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan garis pantai yang sangat panjang, tantangan keamanan laut menjadi semakin kompleks. Akibatnya, muncul kebutuhan akan pangkalan apung yang bisa berpindah tempat dengan cepat.
1. Jangkauan Operasi Udara yang Lebih Luas
Tanpa kapal induk, pesawat tempur kita sangat bergantung pada pangkalan di darat. Kapal induk pertama Indonesia nantinya akan berfungsi sebagai landasan pacu berjalan yang memungkinkan jet tempur menjangkau zona ekonomi eksklusif (ZEE) paling terluar sekalipun.
2. Efek Getar (Deterrence Effect) di Kawasan
Kehadiran kapal ini tentu akan meningkatkan daya tawar Indonesia di mata internasional. Di samping itu, negara-negara tetangga akan melihat Indonesia sebagai kekuatan maritim yang dominan dan stabil di Asia Tenggara.
Strategi KSAL dalam Mewujudkan Visi Maritim
KSAL menegaskan bahwa target ini adalah bagian dari transformasi kekuatan laut yang lebih modern. Namun, langkah awal yang diambil adalah memperkuat armada pendukung terlebih dahulu.
Modernisasi Armada Pengawal
Sebuah kapal induk tidak pernah berlayar sendirian. Ia selalu didampingi oleh kapal fregat, kapal selam, dan kapal perusak sebagai pelindung. Jadi, sebelum kapal induk pertama Indonesia diluncurkan, TNI AL harus memastikan armada pengawalnya sudah siap tempur.
Fokus pada Kapal Helikopter (LHD) sebagai Jembatan
Sebelum menuju kapal induk penuh (Full Carrier), ada kemungkinan Indonesia akan membangun kapal LHD (Landing Helicopter Dock) yang lebih besar. Kapal jenis ini memiliki dek rata dan bisa diubah fungsinya untuk mengoperasikan drone tempur atau pesawat STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing).